Minggu, 24 April 2011

Efektifitas dan Efisiensi

Seringkali kita berbicara mengenai dua kata yang sering dibicarakan secara bersamaan. Kata Efektif dan efisiensi.  Dimana ada kata efektif pasti juga ada kata efisien. Tapi, apakah kita tahu makna dari masing-masing dari kedua kata tersebut. Misalnya dalam kalimat, Dengan penerapan teknologi tersebut diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas atau dengan penggunaan secara efektif dan efisien dapat mengurangi pemborosan energi. Efektif dan efisien tersebut menjadi kata yang tidak terpisahkan.

Efektif
Efektivitas adalah pencapaian tujuan secara tepat atau memilih tujuan-tujuan yang tepat dari serangkaian alternatif atau pilihan cara dan menentukan pilihan dari beberapa pilihan lainnya. Efektifitas bisa juga diartikan sebagai pengukuran keberhasilan dalam pencapaian tujuan-tujuan yang telah ditentukan. Sebagai contoh jika sebuah tugas dapat selesai dengan pemilihan cara-cara yang sudah ditentukan, maka cara tersebut adalah benar atau efektif.
Menurut kamus besar bahasa Indonesia, Kata efektif berarti ada efeknya (akibatnya, pengaruhnya, kesannya);  manjur atau mujarab (tt obat); dapat membawa hasil; berhasil guna (tt usaha, tindakan);  mulai berlaku (tt undang-undang, peraturan). Sedangkan definisi dari kata efektif yaitu suatu pencapaian tujuan secara tepat atau memilih tujuan-tujuan yang tepat dari serangkaian alternatif atau pilihan cara dan menentukan pilihan dari beberapa pilihan lainnya. Efektifitas bisa juga diartikan sebagai pengukuran keberhasilan dalam pencapaian tujuan-tujuan yang telah ditentukan. Misalnya jika suatu pekerjaan dapat selesai dengan pemilihan cara-cara yang sudah ditentukan, maka cara tersebut adalah benar atau efektif.

Efisien
Sedangkan efisiensi adalah penggunaan sumber daya secara minimum guna pencapaian hasil yang optimum. Efisiensi menganggap bahwa tujuan-tujuan yang benar telah ditentukan dan berusaha untuk mencari cara-cara yang paling baik untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. Efisiensi hanya dapat dievaluasi dengan penilaian-penilaian relatif, membandingkan antara masukan dan keluaran yang diterima. Sebagai contoh untuk menyelesaikan sebuah tugas, cara A membutuhkan waktu 1 jam sedang cara B membutuhkan waktu 2 jam, maka cara A lebih efisien dari cara B. Dengan kata lain tugas tersebut dapat selesai menggunakan cara dengan benar atau efisiensi.
Arti kata efisien menurut kamus besar bahasa Indonesia yaitu tepat atau sesuai untuk mengerjakan (menghasilkan) sesuatu (dengan tidak membuang-buang waktu, tenaga, biaya),  mampu menjalankan tugas dengan tepat dan cermat,  berdaya guna, bertepat guna. Sedangkan definisi dari efisien yaitu Sedangkan efisiensi adalah penggunaan sumber daya secara minimum guna pencapaian hasil yang optimum. Efisiensi menganggap bahwa tujuan-tujuan yang benar telah ditentukan dan berusaha untuk mencari cara-cara yang paling baik untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. Efisiensi hanya dapat dievaluasi dengan penilaian-penilaian relatif, membandingkan antara masukan dan keluaran yang diterima. Misalnya suatu pekerjaan dapat dikerjakan dengan cara A dan cara B. Untuk cara A dapat dikerjakan selama 1 jam sedangkan cara B dikerjakan dengan waktu 3 jam. dengan begitu dengan cara A (cara yang benar) baru bisa dikatakan cara yang efisien bila dibandingkan dengan cara B.
Itulah perbedaan dari kata efektif dan efisien. Efektif lebih kearah melakukan sesuatu dengan benar (do the thing right).  Sedangkan efisien berarti melakukan sesuatu yang benar (do the right thing).  Jika kita melakukan sesuatu sebaiknya secara efektif dan efisien. Do the Right thing Right atau melakukan sesuatu yang benar dengan cara yang benar.

Kamis, 24 Februari 2011

PENGERTIAN MANAJEMEN


        Istilah manajemen, terjemahannya dalam bahasa Indonesia hingga saat ini belum ada keseragaman.
Selanjutnya, bila kita mempelajari literatur manajemen, maka akan ditemukan bahwa istilah
manajemen mengandung tiga pengertian yaitu:
Manajemen sebagai suatu proses,
1. Manajemen sebagai kolektivitas orang-orang yang melakukan aktivitas manajemen,
2. Manajemen sebagai suatu seni dan sebagai suatu ilmu pengetahuan (Science)
Menurut pengertian yang pertama, yakni manajemen sebagai suatu proses, berbeda-beda definisi yang
diberikan oleh para ahli. Untuk memperlihatkan tata warna definisi manajemen menurut pengertian
yang pertama itu, dikemukakan tiga buah definisi.
Dalam Encylopedia of the Social Sience dikatakan bahwa manajemen adalah suatu proses dengan
mana pelaksanaan suatu tujuan tertentu diselenggarakan dan diawasi.
Selanjutnya,Hilm an mengatakan bahwa manajemen adalah fungsi untuk mencapai sesuatu melalui
kegiatan orang lain dan mengawasi usaha-usaha individu untuk mencapai tujuan yang sama.
Menurut pengertian yang kedua, manajemen adalah kolektivitas orang-orang yang melakukan aktivitas
manajemen. Jadi dengan kata lain, segenap orang-orang yang melakukan aktivitas manajemen dalam
suatu badan tertentu disebut manajemen.
Menurut pengertian yang ketiga, manajemen adalah seni (Art) atau suatu ilmu pnegetahuan. Mengenai
inipun sesungguhnya belum ada keseragaman pendapat, segolongan mengatakan bahwa manajemen
adalah seni dan segolongan yang lain mengatakan bahwa manajemen adalah ilmu. Sesungguhnya
kedua pendapat itu sama mengandung kebenarannya.<1>
Menurut G.R. Terry manajemen adalah suatu proses atau kerangka kerja, yang melibatkan bimbingan
atau pengarahan suatu kelompok orang-orang kearah tujuan-tujuan organisasional atau maksud-maksud
yang nyata. Manajemen juiga adalah suatu ilmu pengetahuan maupun seni. Seni adalah suatu
pengetahuan bagaimana mencapai hasil yang diinginkan atau dalm kata lain seni adalah kecakapan
yang diperoleh dari pengalaman, pengamatan dan pelajaran serta kemampuan untuk menggunakan
pengetahuan manajemen.
Menurut Mary Parker Follet manajemen adalah suatu seni untuk melaksanakan suatu pekerjaan
melalui orang lain. Definisi dari mary ini mengandung perhatian pada kenyataan bahwa para manajer
mencapai suatu tujuan organisasi dengan cara mengatur orang-orang lain untuk melaksanakan apa saja
yang pelu dalam pekerjaan itu, bukan dengan cara melaksanakan pekerjaan itu oleh dirinya sendiri.
Itulah manajemen, tetapi menurut Stoner bukan hanya itu saja. Masih banyak lagi sehingga tak ada satu definisi saja yang dapat diterima secara universal. Menurut James A.F.Stoner, manajemen adalah suatu proses perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengendalian upaya anggota organisasi dan menggunakan semua sumber daya organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
http://htmlimg4.scribdassets.com/2zmfr98m8urb5xc/images/2-234ac65f77/000.jpghttp://html.scribd.com/2zmfr98m8urb5xc/images/2-234ac65f77/000.jpg
Dari gambar di atas menunjukkan bahwa manajemen adalah Suatu keadaan terdiri dari proses yang
ditunjukkan oleh garis (line) mengarah kepada proses perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan,
dan pengendalian, yang mana keempat proses tersebut saling mempunyai fungsi masing-masing untuk
mencapai suatu tujuan organisasi.












Planning
Berbagai batasan tentang planning dari yang sangat sederhana sampai dengan yang sangat rumit.
Misalnya yang sederhana saja merumuskan bahwa perencanaan adalah penentuan serangkaian tindakan
untuk mencapai suatu hasil yang diinginkan. Pembatasan yang terakhir merumuskan perencaan
merupakan penetapan jawaban kepada enam pertanyaan berikut :
1. Tindakan apa yang harus dikerjakan ?
2. Apakah sebabnya tindakan itu harus dikerjakan ?
3. Di manakah tindakan itu harus dikerjakan ?
4. kapankah tindakan itu harus dikerjakan ?
5. Siapakah yang akan mengerjakan tindakan itu ?
6. Bagaimanakah caranya melaksanakan tindakan itu ?
Menurut Stoner Planning adalah proses menetapkan sasaran dan tindakan yang perlu untuk mencapai
sasaran tadi.
Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya

Organizing
Organizing (organisasi) adalah dua orang atau lebih yang bekerja sama dalam cara yang terstruktur
untuk mencapai sasaran spesifik atau sejumlah sasaran.
Leading
Pekerjaan leading meliputi empat kegiatan yaitu :

1 . Mengambil keputusan
2 . Mengadakan komunikasi agar ada saling pengertian antara manajer dan bawahan.
3 . Memeberi semangat, inspirasi, dan dorongan kepada bawahan supaya mereka bertindak.
4 . Memeilih orang-orang yang menjadi anggota kelompoknya, serta memperbaiki pengetahuan
dan sikap-sikap bawahan agar mereka terampil dalam usaha mencapai tujuan yang ditetapkan.
Agar tujuan tercapai maka dibutuhkan pengorganisasian. Dalam perusahaan biasanya diwujudkan dalam bentuk bagan organisasi. Yang kemudian dipecah menjadi berbagai jabatan. Pada setiap jabatan biasanya memiliki tugas, tanggung jawab, wewenang dan uraian jabatan (Job Description). Semakin tinggi suatu jabatan biasanya semakin tinggi tugas, tanggung jawab dan wewenangnya. Biasanya juga semakin besar penghasilannya. Dengan pembagian tugas tersebut maka pekerjaan menjadi ringan. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Disinilah salah satu prinsip dari manajemen. Yaitu membagi-bagi tugas sesuai dengan keahliannya masing-masing.
actuating
Perencanaan dan pengorganisasian yang baik kurang berarti bila tidak diikuti dengan pelaksanaan kerja. Untuk itu maka dibutuhkan kerja keras, kerja cerdas dan kerjasama. Semua sumber daya manusia yang ada harus dioptimalkan untuk mencapai visi, misi dan program kerja organisasi. Pelaksanaan kerja harus sejalan dengan rencana kerja yang telah disusun. Kecuali memang ada hal-hal khusus sehingga perlu dilakukan penyesuian. Setiap SDM harus bekerja sesuai dengan tugas, fungsi dan peran, keahlian dan kompetensi masing-masing SDM untuk mencapai visi, misi dan program kerja organisasi yang telah ditetapkan.
Controlling
Controlling atau pengawasan, sering juga disebut pengendalian adalah salah satu fungsi manajemen
yang berupa mengadakan penilaian, bila perlu mengadakan koreksi sehingga apa yang dilakukan
bawahan dapat diarahkan ke jalan yang benar dengan maksud dengan tujuan yang telah digariskan
semula.
Agar pekerjaan berjalan sesuai dengan visi, misi, aturan dan program kerja maka dibutuhkan pengontrolan. Baik dalam bentuk supervisi, pengawasan, inspeksi hingga audit. Kata-kata tersebut memang memiliki makna yang berbeda, tapi yang terpenting adalah bagaimana sejak dini dapat diketahui penyimpangan-penyimpangan yang terjadi. Baik dalam tahap perencanaan, pelaksanaan maupun pengorganisasian. Sehingga dengan hal tersebut dapat segera dilakukan koreksi, antisipasi dan penyesuaian-penyesuaian sesuai dengan situasi, kondisi dan perkembangan zaman.

Minggu, 13 Februari 2011

Sejarah perkembangan organisasi


Sejarah perkembangan organisasi
Sejarah Pengembangan Organisasi sangat erat hubungannya dengan teori organisasi. Teori Organisasi meliputi teori organisasi klasik, teori organisasi neoklasik, dan teori organisasi modern.
 
Teori Organisasi Klasik
Teori klasik (classical theory) kadang-kadang disebut juga teori tradisional yang berisi konsep-konsep tentang organisasi mulai tahun 1800( abad 18).
Dalam teori ini, organisasi secar umum digambarkan oleh para teoritisi klasik sebagai organisasi yang sangat tersentralisasi dan tugas-tugasnya terspesialisasi, serta memberikan petunjuk mekanistik structural yang kaku dan tidak mengandung kreatifitas. Dalam teori ini organisasi didefinisikan sebagai struktur hubungan, kekuasaan-kekuasaan, tujuan-tujuan, peranan-peranan, kegiatan-kegiatan, komunikasi dan faktor-faktor lain bila orang-orang bekerja sama.
Teori Klasik berkembang dalam 3 aliran yaitu: teori birokrasi, teori administrasi, dan manajemen ilmiah.

I. Teori Birokrasi
Teori ini dikemukakan oleh Max Weber dalam bukunya “The Protestant Ethic dan Spirit of Capitalism”.
Karakteristik-karakteristik birokrasi menurut Max Weber:
1. Pembagian Kerja yang jelas.
2. Hirarki wewenang yang dirumuskan secara baik
3. Program rasional dalam mencapai tujuan organisasi
4. Sistem prosedur bagi penanganan situasi kerja
5. Sistem aturan yang mencakup Hak dan Kewajiban posisi para pemegang jabatan
6. Hubungan antar pribadi yang bersifat impersonal.

II. Teori Administrasi
Teori ini sebagian besar dikembangkan atas dasar sumbangan Henri Fayol dan Lyndall Urwick dari Eropa serta Mooney dan Reiley dari Amerika.
Henri Fayol mengemukakan dan mambahas 14 kaidah manajemen yang menjadi dasar perkembangan teori ini yaitu:
- Pembagian Kerja / Division of Work
- Wewenang dan Tanggung jawab
- Disiplin
- Kesatuan perintah
- Kesatuan pengarahan
- Mendahulukan kepentingan umum dari pada pribadi
- Balas jasa
- Sentralisasi
- Rantai scalar
- Aturan
- Keadilan
- Kelanggengan personalia
- Inisiatif
- Semangat korps

III. Manajemen Ilmiah
Manajemen Ilmiah dikembangkan oleh Frederick Winslow Taylor tahun 1900. Ada beberapa pendapat tentang manajemen ilmiah, salah satunya adalah mengatakan manajemen ilmiah merupakan penerapan metode ilmiah pada studi, analisa, dan pemecahan masalah-masalah organisasi.
Taylor mengemukakan empat kaidah dasar manajemen yang harus dilaksanakan dalam organisasi perusahaan, yaitu:
o Menggantikan metoda-metoda kerja dalam praktek dengan berbagai metoda yang dikembangkan atas dasar ilmu pengetahuan tentang kerja yang ilmiah dan benar.
o Mengadakan seleksi, latihan-latihan dan pengembangan para karyawan secara ilmiah.
o Pengembangan ilmu kerja serta seleksi, latihan dan pengembangan secara ilmiah harus diintegrasikan.
o Untuk mecapai manfaat manajemen ilmiah, perlu dikembangkan semangat dan mental para karyawan.
Teori organisasi klasik sepenuhnya hanya menguraikan anatomi organisasi formal. Dalam organisasi formal ada empat unsure pokok yang selalu muncul, yaitu:
 System Kegiatan yang terkoordinasi\
 Kelompok orang\
 Kerjasama\
 Kekuasaan dan kepemimpinan\
Menurut para pengikut aliran teori klasik, adanya suatu organisasi formal sangat tergantung pada empat kondisi pokok, yaitu:
 Kekuasaan
 Saling melayani
 Doktrin
 Disiplin

Teori Organisasi Neoklasik
Teori Neoklasik secara sederhana dikenal sebagai aliran hubungan manusiawi(The Human Relation Movement). Teori neoklasik dikembangkan atas dasar teori klasik. Dasar teori ini adalah menekankan pentingnya aspek psikologis dan social karyawan sebagai individu maupun sebagai bagian kelompok kerjanya. Perkembangan teori neoklasik dimulai dengan inspirasi percobaan-percobaan yang dilakukan di Howthorne dan dari tulisan Huga Munsterberg.
Percobaan-percobaan ini dilakukan dari tahun 1924 sampai 1932 yang menandai permulaan perkembangan teori hubungan manusiawi dan merupakan kristalisasi teori neoklasik. Pada akhirnya percobaan Howthorne menunjukkan bagaimana kegiatan kelompok-kelompok kerja kohesif sangat berpengaruh pada operasi organisasi.
Dalam hal pembagian kerja, teori neoklasik mengemukakan perlunya hal-hal sebagai berikut:
 Partisipai
 Perluasan kerja
 Manajemen bottom-up

Teori Organisasi Modern
Teori modern biasanya disebut juga sebagai analisa sistem pada organisasi. Teori modern melihat bahwa semua unsur organisasi sebagai satu kesatuan dan saling ketergantungan, yang di dalamnya mengemukakan bahwa organisasi bukanlah suatu sistem tertutup yang berkaitan dengan lingkungan yang stabil, akan tetapi organisasi merupakan sistem terbuka.
Teori modern dikembangkan tahun 1950, dalam banyak hal yang mendalam teori modern dengan klasik berbeda, perbedaan tersebut diantaranya:
 TeoriN Klasik memusatkan pandangannya pada analisa dan deskripsi organisasi, membicarakan konsep koordinasi, scalar dan vertikal.
 Teori ModernN menekankan pada perpaduan dan perancangan menjadikan pemenuhan suatu kebutuhan yang menyeluruh, lebih dinamis dan lebih banyak variabel yang dipertimbangkan.
Teori Modern menunjukkan tiga kegiatan proses hubungan universal yang selalu muncul pada sistem manusia dalam perilakunya berorganisasi, yaitu:
 KomunikasiM
 Konsep keseimbanganM
 Proses pengambilan keputusanM
Tujuan Perkembangan Organisasi ;
1. Menciptakan keharmonisan hubungan kejra antara pimpinan dengan staf anggota
organisasi.
2. Menciptakan kemampuan memecahkan persoalan organisasi secara lebih terbuka
3. Menciptakan keterbukaan dalam berkomunikasi.
4. Merupakan semangat kerja para anggota organisasi dan kemampuan
mengendalikan diri.

Sebagai contohnya : Bangunan piramida di Mesir dan candi Borobudur di Indonesia harus melibatkan ratusan sampai ribuan orang dan menggunakan ribuan batu sebagai bahan dasarnya. Tentu pekerjaan besar tersebut harus dilakukan dengan perencanaan, pengorganisasian, dan pengendalian yang cermat. Jadi, manajemen bisa juga disebut dengan kesatuan dari kegiatan-kegiatan yang dilakukan. Kita juga sebagai manusia sering melakukan kegiatan manajemen, sejak dari kita anak-anak sampai dewasa nanti. Tanpa memanage atau mengatur diri kita sendiri kita tidak bisa mencapai sesuatu yang kita inginkan. Sebagai contoh kita ingin pergi ke sekolah terlebih dahulu kita harus mengatur diri kita mulai dari bangun tidur hingga sampai di sekolah. Jadi, seseorang yang memanage dirinya dengan sebaik-baiknya maka ia akan mendapatkan sesuatu yang ditujunya.


Efektif dan efisiensi
Seringkali kita berbicara mengenai dua kata yang sering dibicarakan secara bersamaan. Kata Efektif dan efisiensi.  Dimana ada kata efektif pasti juga ada kata efisien. Tapi, apakah kita tahu makna dari masing-masing dari kedua kata tersebut. Misalnya dalam kalimat, Dengan penerapan teknologi tersebut diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas atau dengan penggunaan secara efektif dan efisien dapat mengurangi pemborosan energi. Efektif dan efisien tersebut menjadi kata yang tidak terpisahkan.

Efektif
Efektivitas adalah pencapaian tujuan secara tepat atau memilih tujuan-tujuan yang tepat dari serangkaian alternatif atau pilihan cara dan menentukan pilihan dari beberapa pilihan lainnya. Efektifitas bisa juga diartikan sebagai pengukuran keberhasilan dalam pencapaian tujuan-tujuan yang telah ditentukan. Sebagai contoh jika sebuah tugas dapat selesai dengan pemilihan cara-cara yang sudah ditentukan, maka cara tersebut adalah benar atau efektif.
Menurut kamus besar bahasa Indonesia, Kata efektif berarti ada efeknya (akibatnya, pengaruhnya, kesannya);  manjur atau mujarab (tt obat); dapat membawa hasil; berhasil guna (tt usaha, tindakan);  mulai berlaku (tt undang-undang, peraturan). Sedangkan definisi dari kata efektif yaitu suatu pencapaian tujuan secara tepat atau memilih tujuan-tujuan yang tepat dari serangkaian alternatif atau pilihan cara dan menentukan pilihan dari beberapa pilihan lainnya. Efektifitas bisa juga diartikan sebagai pengukuran keberhasilan dalam pencapaian tujuan-tujuan yang telah ditentukan. Misalnya jika suatu pekerjaan dapat selesai dengan pemilihan cara-cara yang sudah ditentukan, maka cara tersebut adalah benar atau efektif.

Efisien
Sedangkan efisiensi adalah penggunaan sumber daya secara minimum guna pencapaian hasil yang optimum. Efisiensi menganggap bahwa tujuan-tujuan yang benar telah ditentukan dan berusaha untuk mencari cara-cara yang paling baik untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. Efisiensi hanya dapat dievaluasi dengan penilaian-penilaian relatif, membandingkan antara masukan dan keluaran yang diterima. Sebagai contoh untuk menyelesaikan sebuah tugas, cara A membutuhkan waktu 1 jam sedang cara B membutuhkan waktu 2 jam, maka cara A lebih efisien dari cara B. Dengan kata lain tugas tersebut dapat selesai menggunakan cara dengan benar atau efisiensi.
Arti kata efisien menurut kamus besar bahasa Indonesia yaitu tepat atau sesuai untuk mengerjakan (menghasilkan) sesuatu (dengan tidak membuang-buang waktu, tenaga, biaya),  mampu menjalankan tugas dengan tepat dan cermat,  berdaya guna, bertepat guna. Sedangkan definisi dari efisien yaitu Sedangkan efisiensi adalah penggunaan sumber daya secara minimum guna pencapaian hasil yang optimum. Efisiensi menganggap bahwa tujuan-tujuan yang benar telah ditentukan dan berusaha untuk mencari cara-cara yang paling baik untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. Efisiensi hanya dapat dievaluasi dengan penilaian-penilaian relatif, membandingkan antara masukan dan keluaran yang diterima. Misalnya suatu pekerjaan dapat dikerjakan dengan cara A dan cara B. Untuk cara A dapat dikerjakan selama 1 jam sedangkan cara B dikerjakan dengan waktu 3 jam. dengan begitu dengan cara A (cara yang benar) baru bisa dikatakan cara yang efisien bila dibandingkan dengan cara B.
Itulah perbedaan dari kata efektif dan efisien. Efektif lebih kearah melakukan sesuatu dengan benar (do the thing right).  Sedangkan efisien berarti melakukan sesuatu yang benar (do the right thing).  Jika kita melakukan sesuatu sebaiknya secara efektif dan efisien. Do the Right thing Right atau melakukan sesuatu yang benar dengan cara yang benar.






Jumat, 19 November 2010

Macam-macam "Phobia"

Takut Air = Hydrophobia,
Takut Agama = Theologicophobia,
Takut Alat Kelamin = Kolpophobia,
Takut Aliran Udara = Aerophobia,
Takut Alkohol = Methyphobia,
Takut Alkohol = Potophobia,
Takut Amnesia = Amnesiphobia,
Takut Anggur = Oenophobia,
Takut Angin = Ancraophobia,
Takut Angka = Arithmophobia,
Takut Angka 13 – Triskaidekaphobia,
Takut Angka 8 = Octophobia,
Takut Anjing = Cynophobia,
Takut Anjing Laut = Lutraphobia,
Takut Anus = Rectophobia,
Takut Api = Arsonphobia,
Takut Api = Pyrophobia,
Takut Awan = Nephophobia,
Takut Ayam = Alektorophobia,
Takut Ayan = Hylephobia,
Takut Badut = Coulrophobia,
Takut Bahan Kimia – Chemophobia,
Takut Bangunan Tinggi = Batophobia,
Takut Banjir = Antlophobia,
Takut Bapak Tiri = Vitricophobia,
Takut Batu Nisan = Placophobia,
Takut Bau Badan = Bromidrosiphobia,
Takut Bau Bauan = Olfactophobia,
Takut Bau Busuk = Autodysomophobia,
Takut Bawa Mobil – Amaxophobia,
Takut Bawang Putih = Alliumphobia,
Takut Bayangan = Sciaphobia,
Takut Bebas = Eleutherophobia,
Takut Belanda = Dutchphobia,
Takut Benang = Linonophobia,
Takut Benda di Sebelah Kanan = Dextrophobia,
Takut Benda di Sebelah Kiri = Levophobia,
Takut Berantakan = Ataxophobia,
Takut Berbicara = Laliophobia,
Takut Bercinta = Malaxophobia,
Takut Bercinta = Sarmassophobia,
Takut Berdosa = Hamartophobia,
Takut Berfikir = Phronemophobia,
Takut Berita Baik = Euphobia,
Takut Berjalan = Stasibasiphobia,
Takut Berjanji = Enissophobia,
Takut Berkotbah = Homilophobia,
Takut Berlarut = Apeirophobia,
Takut Bersenggama = Coitophobia,
Takut Bertanggung Jawab = Hypegiaphobia,
Takut Binatang = Zoophobia.
Takut Binatang Liar = Agrizoophobia,
Takut Binatang Melata = Herpetophobia,
Takut Bintang = Astrophobia,
Takut Bintang = Siderophobia,
Takut Bintang Berekor = Cometophobia,
Takut Bom Atom = Atomosophobia,
Takut Boneka = Pediophobia,
Takut Boneka Bersuara Perut = Automatonophobia,
Takut Bosan = Xerophobia,
Takut Botak = Phalacrophobia,
Takut Buang Air Besar = Rhypophobia,
Takut Buku = Bibliophobia,
Takut Bulan = Selenophobia,
Takut Bulu Ayam = Pteronophobia,
Takut Bunga = Anthophobia,
Takut Bunga Es = Pagophobia,
Takut Bungkuk = Kyphophobia,
Takut Burung = Ornithophobia,
Takut Buta = Scotomaphobia,
Takut Cabut Gigi = Odontophobia,
Takut Cacing = Helminthophobia,
Takut Cacing = Scoleciphobia,
Takut Cacing Pita = Taeniophobia,
Takut Cacing Pita **** = Trichinophobia,
Takut Cahaya = Photophobia,
Takut Cahaya dari Utara = Auroraphobia,
Takut Caplak = Phthiriophobia,
Takut Cemburu = Zelophobia,
Takut Cermin = Catoptrophobia,
Takut Cina = Sinophobia,
Takut Corak Baru – Cainophobia
Takut Daerah Perbatasan = Claustrophobia,
Takut Daging = Carnophobia,
Takut Dagu = Geniophobia,
Takut Danau = Limnophobia,
Takut Darah = Hemaphobia,
Takut Debu = Amathophobia,
Takut Debu = Koniophobia,
Takut Demam = Febriphobia,
Takut Demam = Fibriophobia,
Takut Demo = Daemonophobia,
Takut dengan Seks = Erotophobia,
Takut Dewa = Zeusophobia,
Takut Di dalam Rumah = Oikophobia,
Takut di Ejek = Katagelophobia,
Takut di Hipnotis = Hynophobia,
Takut Di pandang = Opthalmophobia,
Takut Diabaikan = Athazagoraphobia,
Takut Dibatasi – Merinthophobia,
Takut Dibenci = Melophobia,
Takut Dicekik = Pnigophobia,
Takut Dicuri = Cleptophobia,
Takut Dihukum = Mastigophobia,
Takut Dihukum Berat = Rhabdophobia,
Takut Dikubur Sendirian =Taphephobia,
Takut Diluar Ruangan =Spacephobia,
Takut Dingin =Cheimaphobia,
Takut Dingin =Psychrophobia,
Takut Dinilai Negatif =Socialphobia,
Takut Diracun =Toxicophobia,
Takut Dirampok =Harpaxophobia,
Takut Disentuh =Aphenphosmphobia,
Takut Disentuh – Chiraptophobia,
Takut Disentuh =Haphephobia,
Takut Disuntik =Trypanophobia,
Takut Ditatap =Scopophobia,
Takut Ditertawakan =Catagelophobia,
Takut Ditinggal Sendiri =Eremophobia,
Takut Dokter Gigi =Dentophobia,
Takut Dubur =Proctophobia,
Takut Duduk =Cathisophobia,
Takut Duduk =Taasophobia,
Takut Duduk di Bawah =Kathisophobia,
Takut Emas =Aurophobia,
Takut Es Batu =Cryophobia,
Takut Fenomena Kosmis =Kosmikophobia,
Takut Filosofi =Philosophobia,
Takut Gagal =Atychiphobia,
Takut Gagap =Psellismophobia,
Takut Gatal =Acarophobia,
Takut Gatal =Pellagrophobia,
Takut Gedung Pertunjukan =Theatrophobia,
Takut Gelap =Achluophobia,
Takut Gelap =Lygophobia,
Takut Gelas =Hyelophobia,
Takut Gelombang =Kymophobia,
Takut Gembira =Cherophobia,
Takut Gerakan =Kinetophobia,
Takut Gereja =Ecclesiophobia,
Takut Getaran =Tremophobia,
Takut Gravitasi =Barophobia,
Takut Guntur =Ceraunophobia,
Takut Halloween =Samhainophobia,
Takut Hamil =Tocophobia,
Takut Hantu =Bogyphobia,
Takut Hantu =Phasmophobia,
Takut Hantu =Spectrophobia,
Takut Hujan =Ombrophobia,
Takut Hujan =Pluviophobia,
Takut Hukum =Dikephobia,
Takut Hukuman =Poinephobia,
Takut Hutan =Hylophobia,
Takut Hutan =Xylophobia,
Takut Hutan di Malam Hari =Nyctophobia,
Takut Ibu Tiri =Novercaphobia,
Takut Ide =Ideophobia,
Takut Ide Baru =Cenophobia,
Takut Ikan =Ichthyophobia,
Takut Inggris =Anglophobia,
Takut Insektisida =Entomophobia,
Takut Istilah Latin =Hellenologophobia,
Takut Jadi Gila =Lysssophobia,
Takut Jadi Homoseks =Homophobia,
Takut Jahudi =Judeophobia,
Takut Jalan =Ambulophobia,
Takut Jamur =Mycophobia,
Takut Jarum =Aichmophobia,
Takut Jatuh – Basiphobia
Takut Jatuh Cinta =Philophobia,
Takut Jelek =Cacophobia,
Takut Jembatan Penyeberangan =Gephydrophobia,
Takut Jenggot =Pogonophobia,
Takut Jenis Kelamin Berbeda =Heterophobia,
Takut Jepang =Japanophobia,
Takut Jerman =Germanophobia,
Takut Jerman =Teutophobia,
Takut Jomblo =Anuptaphobia,
Takut Jum’at ke 13 =Paraskavedekatriaphobia,
Takut Kabut =Homichlophobia,
Takut Kacang =Arachibutyrophobia,
Takut Kaget =Hormephobia,
Takut Kain Lap =Vestiphobia,
Takut Kain Satin =Satanophobia,
Takut Kalah =Kakorrhaphiophobia,
Takut Kanker – Carcinophobia,
Takut Kanker =Cancerophobia,
Takut Kata Kata =Logophobia,
Takut Kata Kata =Verbophobia,
Takut Kata Panjang = Hippopotomonstrosesquippedaliophobia,
Takut Kata yang Panjang =Sesquipedalophobia,
Takut Katak =Ranidaphobia,
Takut Kaya =Plutophobia,
Takut Ke Sekolah =Didaskaleinophobia,
Takut Kecelakaan =Dystychiphobia,
Takut Kedalaman =Bathophobia,
Takut Kedokter =Iatrophobia,
Takut Kegelapan =Myctophobia,
Takut Kegelapan =Scotophobia,
Takut Kejatuhan Benda =Atephobia,
Takut Kekacauan =Demophobia,
Takut Kelahiran =Parturiphobia,
Takut Kelainan Bentuk =Dysmorphophobia,
Takut Kelamin Wanita =Eurotophobia,
Takut Kemajuan =Prosophobia,
Takut Kembali ke Rumah =Nostophobia,
Takut Kembung =Anginophobia,
Takut Kencing =Urophobia,
Takut Keramaian =Agoraphobia,
Takut Kerang-Kerangan =Ostraconophobia,
Takut Kereta Api = Diderodromophobia,
Takut Keriput =Rhytiphobia,
Takut Kerja Berlebihan =Ponophobia,
Takut Kertas =Papyrophobia,
Takut Kesakitan =Agliophobia,
Takut Ketinggian =Altophobia,,
Takut Ketinggian =Hypsiphobia,
Takut Ketularan =Tapinophobia,
Takut Keturunan =Patroiophobia,
Takut Kezaliman =Tyrannophobia,
Takut Kilat =Brontophobia,
Takut Kodok =Bufonophobia,
Takut Komputer =Cyberphobia,
Takut Komputer =Logizomechanophobia,
Takut Kotor =Automysophobia,
Takut Kotoran =Myxophobia,
Takut Kriminal =Peccatophobia,
Takut Kristal =Crystallophobia,
Takut Kuburan =Coimetrophobia,
Takut Kucing =Ailurophobia,
Takut Kucing =Elurophobia,
Takut Kucing =Felinophobia,
Takut Kuda =Equinophobia,
Takut Kuda =Hippophobia,
Takut Kulit Binatang =Doraphobia,
Takut Kuman =Spermatophobia,
Takut Kunci – Chronomentrophobia,
Takut Kutu =Pediculophobia,
Takut Laba Laba =Arachnophobia,
Takut Laki Laki =Androphobia,
Takut Laki Laki =Arrhenophobia,
Takut Lampu Sorot =Selaphobia,
Takut Laut =Thalassophobia,
Takut Lawan Jenis =Sexophobia,
Takut Lebah =Apiphobia,
Takut Lecet =Amychophobia,
Takut Lelah =Kopophobia,
Takut Lembab =Hygrophobia,
Takut Lengket di Langit Mulut =Arachibutyrophobia,
Takut Listrik =Enochlophobia,
Takut Logam =Metallophobia,
Takut Lompat =Catapedaphobia,
Takut Luka =Dematophobia,
Takut Luka =Traumatophobia,
Takut Lumpuh =Poliosophobia,
Takut Lumpur =Blennophobia,
Takut Lutut – Genuphobia,
Takut Mabuk Udara =Aeronausiphobia,
Takut Makan =Phagophobia,
Takut Makan =Sitiophobia,
Takut Makanan – Cibophobia,
Takut Makanan =Sitophobia,
Takut Mal Praktek =Ergasiophobia,
Takut Malam =Noctiphobia,
Takut Maling =Scelerophobia,
Takut Mandek =Ankylophobia,
Takut Mandi – Ablutophobia,
Takut Marah =Angrophobia,
Takut Masak =Mageirocophobia,
Takut Mata Kabur =Diplophobia,
Takut Mata Mata =Ommatophobia,
Takut Matahari =Heliophobia,
Takut Matahari – Phengophobia,
Takut Mati =Necrophobia,
Takut Mati =Thantophobia,
Takut Melahirkan =Lockiophobia,
Takut Melahirkan =Maieusiophobia,
Takut Melarat – Peniaphobia
Takut Melihat Massa =Ochlophobia,
Takut Membelakangi =Dishabiliophobia,
Takut Membuat Keputusan =Decidophobia,
Takut Membuat Perubahan =Tropophobia,
Takut Membuka Satu Mata =Optophobia,
Takut Membusuk =Seplophobia,
Takut Menari – Chorophobia,
Takut Mencium =Philemaphobia,
Takut Mendengar Kata Tertentu =Onomatophobia,
Takut Menderita =Panthophobia,
Takut Menganggur =Domatophobia,
Takut Mengingat =Mnemophobia,
Takut Menikah =Gamophobia,
Takut Menjadi Sakit =Nosemaphobia,
Takut Menstruasi =Monophobia,
Takut Menua =Gerascophobia,
Takut Menulis di Papan =Scriptophobia,
Takut Menunggu Lama =Macrophobia,
Takut Menyeberang =Agyrophobia,
Takut Menyeberang Jalan =Dromophobia,
Takut Merasa Nyaman =Hedonophobia,
Takut Mertua =Pentheraphobia,
Takut Mertua =Soceraphobia,
Takut Mesin =Mechanophobia,
Takut Meteor =Meterorophobia,
Takut Mikroba =Bacillophobia,
Takut Mikroba =Microbiophobia,
Takut Milik =Orthophobia,
Takut Mimisan =Epistaxiophobia,
Takut Mimpi =Oneirophobia,
Takut Mimpi Basah =Oneirogmophobia,
Takut Minum Obat =Pharmacophobia,
Takut Minuman =Dipsophobia,
Takut Mitos =Mythophobia,
Takut Mobil =Motorphobia,
Takut Monster =Teratophobia,
Takut Mukanya Merah =Ereuthophobia,
Takut Mulut Kejang =Tetanophobia,
Takut Muntahan =Emetophobia,
Takut Naik Mobil =Ochophobia,
Takut Naik Pesawat =Aerophobia,
Takut Naik Pesawat =Aviophobia,
Takut Nama Nama =Namatophobia,
Takut Neraka =Hadephobia,
Takut Neraka =Stigiophobia,
Takut Ngaca =Eisoptrophobia,
Takut Ngaceng =Ithypallophobia,
Takut Ngebut =Tachophobia,
Takut Ngengat =Mottophobia,
Takut Noda =Rupophobia,
Takut Nomer =Numerophobia,
Takut Nyeri =Algophobia,
Takut Nyeri =Odynephobia,
Takut Obat Baru =Neopharmaphobia,
Takut Ombak =Cymophobia,
Takut Operasi =Tomophobia,
Takut Orang Asing =Xenophobia,
Takut Orang Asing =Xenophobia,
Takut Orang Botak =Peladophobia,
Takut Orang Buntung – Apotemnophobia,
Takut Orang Suci – Hagiophobia,
Takut Otot Gerak Sendiri – Ataxiophobia,
Takut Panas – Thermophobia,
Takut Parasit – Parasitophobia,
Takut Paus – Papaphobia,
Takut Pelecehan Seksual – Agraphobia,
Takut Pelecehan Seksual – Contreltophobia,
Takut Peluru – Ballistophobia,
Takut Pembicaraan Dinner – Deipnophobia,
Takut Pemerkosa – Virginitiphobia,
Takut Pendapat – Allodoxaphobia,
Takut Pendeta – Hierophobia,
Takut Pengemis – Hobophobia,
Takut Pengetahuan – Epistemphobia,
Takut Pengetahuan – Gnosiophobia,
Takut Penis – Phallophobia,
Takut Penis Berdiri – Medorthophobia,
Takut Penis Loyo – Medomalacuphobia,
Takut Penyakit – Pathophobia,
Takut Penyimpangan Seks – Paraphobia,
Takut Peralatan Listrik – Electrophobia,
Takut Perancis – Francophobia,
Takut Perjalanan – Hodophobia,
Takut Perkara Hukum – Liticaphobia,
Takut Perubahan – Metathesiophobia,
Takut Petir – Astrapophobia,
Takut Pikiran – Psychophobia,
Takut Pin – Balenephobia,
Takut Pin – Enetophobia,
Takut Pingsan – Ashenophobia,
Takut Pohon – Dendrophobia,
Takut Politikus – Politicophobia,
Takut Pria – Hominophobia,
Takut Puisi – Mertophobia,
Takut Pusaran Air – Dinophobia,
Takut Rabies – Hydrophobophobia,
Takut Rabies – Kynophobia,
Takut Racun – Iophobia,
Takut Racun – Toxiphobia
Takut Rambut – Chaetophobia,
Takut Rambut – Trichopathophobia,
Takut Rasa – Geumaphobia,
Takut Rayap – Isopterophobia,
Takut Reptil – Batrachophobia,
Takut Reptil – Herpetophobia,
Takut Ruang Kosong – Cenophobia,
Takut Ruangan – Koinoniphobia,
Takut Ruangan Kosong – Kenophobia,
Takut Rumah – Ecophobia,
Takut Rumah Sakit – Nosocomephobia,
Takut Rusia – Russophobia,
Takut Sakit Demam – Pyrexiophobia,
Takut Sakit Diabetes – Diabetophobia,
Takut Sakit Ginjal – Albuminurophobia,
Takut Sakit Jantung – Cardiophobia,
Takut Sakit Jiwa – Dementophobia,
Takut Sakit Jiwa – Maniaphobia,
Takut Sakit Kelamin – Cyprianophobia,
Takut Sakit Kolera – Cholerophobia,
Takut Sakit Kulit – Dermatophathophobia,
Takut Sakit Kusta – Leprophobia,
Takut Sakit Otak – Meningitiophobia,
Takut Sakit Syphilis – Syphilophobia,
Takut Sakit Syphillis – Luiphobia,
Takut Salib – Staurophobia,
Takut Salju – Chionophobia,
Takut Sama Gadis – Parthenophobia,
Takut Sapi Jantan – Taurophobia,
Takut Saudara – Syngenesophobia,
Takut Sayuran – Lachanophobia,
Takut Segala Sesuatu – Polyphobia,
Takut Segalanya – Panophobia,
Takut Sekitar Rumah – Eicophobia,
Takut Sekitar Rumah – Oikophobia,
Takut Sekolah – Scoionophobia,
Takut Seks – Genophobia,
Takut Semangat – Pneumatiphobia,
Takut Semut – Myrmecophobia,
Takut Sendiri – Isolophobia,
Takut Sendirian – Autophobia,
Takut Sendirian – Monophobia,
Takut Senjata Api – Hoplophobia,
Takut Senjata Nuklir – Nucleomituphobia,
Takut Sepeda – Cyclophobia,
Takut Serangga – Epistaxiophobia,
Takut Serangga – Insectophobia,
Takut Seruling – Aulophobia,
Takut Sesuatu dari Kiri – Sinistrophobia,
Takut Sesuatu yang Baru – Kainolophobia,
Takut Sesuatu yang Baru – Neophobia,
Takut Sesuatu yang Besar – Megalophobia,
Takut Sesuatu yang Kecil – Microphobia,
Takut Silau – Photoaugliaphobia,
Takut Simbol – Symbolophobia,
Takut Simetris – Symmetrophobia,
Takut Sinar X – Radiophobia,
Takut Situasi yang Menakutkan – Counterphobia,
Takut Skabies – Scabiophobia,
Takut Suara – Acousticophobia,
Takut Suara Keras – Ligyrophobia,
Takut Suara Telpon – Phonophobia,
Takut Subuh – Eosophobia,
Takut Sungai – Potamophobia,
Takut Surga – Ouranophobia,
Takut Surga – Uranophobia,
Takut Susah Be’ol – Coprastasophobia,
Takut Tabuhan – Spheksophobia,
Takut Takut Anak Anak – Pedophobia,
Takut Tali – Cnidophobia,
Takut Tambah Berat – Obesophobia,
Takut Tambah Berat – Pocrescophobia,
Takut Tanaman – Batonophobia,
Takut Tangga – Climacophobia,
Takut Tanggung Jawab – Paralipophobia,
Takut Tantangan – Heresyphobia,
Takut Tawon – Melissophobia,
Takut TBC – Phthisiophobia,
Takut TBC – Tuberculophobia,
Takut Tebing – Cremnophobia,
Takut Teknologi – Technophobia,
Takut Tekstur Tertentu – Textophobia,
Takut Telanjang – Gymnophobia,
Takut Telanjang – Nudophobia,
Takut Telpon – Telephophobia,
Takut Tempat Sempit – Stenophobia,
Takut Tempat Terbuka – Agoraphobia,
Takut Tempat Tertentu – Topophobia,
Takut Tempat Tertutup – Claustrophobia,
Takut Tempat Tinggi Terbuka – Aeroacrophobia,
Takut Terbahak – Geliophobia,
Takut Terbang – Pteromerhanophobia,
Takut Tergantung pada Orang – Soteriophobia,
Takut Terkontaminasi Debu – Misophobia,
Takut Terkunci – Cleisiophobia,
Takut Tidak Sempurna – Atelophobia,
Takut Tidak Simetris – Asymmetriphobia,
Takut Tidur – Clinophobia,
Takut Tidur – Somniphobia,
Takut Tikus – Murophobia,
Takut Tikus – Suriphobia,
Takut Tikus Besar – Zemmiphobia,
Takut Tornado – Lilapsophobia,
Takut Tuhan – Theophobia,
Takut Tulisan Tangan – Graphophobia,
Takut Tuma – Verminophobia,
Takut Uang – Chrematophobia,
Takut Ujian – Tertaphobia,
Takut Ular – Ophidiophobia,
Takut Ular – Snakephobia,
Takut Upacara Seremonial – Teleophobia,
Takut Vaksinasi – Vaccinophobia,
Takut Vertigo – Illyngophobia,
Takut Waktu – Chronophobia,
Takut Wangi-Wangian – Osphesiophobia,
Takut Wanita – Gynephobia,
Takut Wanita Cantik – Caligynephobia,
Takut Wanita Cantik – Venustraphobia,
Takut Wanita Sihir – Vitricophobia,
Takut Warga – Anthropophobia,
Takut Warna – Chromatophobia,
Takut Warna Hitam – Melanophobia,
Takut Warna Kuning – Xanthophobia,
Takut Warna Putih – Leukophobia,
Takut Warna Ungu – Porphyrophobia,
Takut Wayang – Pupaphobia.

Kamis, 18 November 2010

Runtuhnya kebudayaan karena teknologi

PENDAHULUAN
Globalisasi yang di di tandai dengan pesatnya teknologi komunikasi dan transportasi, telah membuat dunia menjadi semakin kecil dan semakin terkoneksi, yang mengakibatkan meningkatnya interaksi antar individu, kelompok dari berbagai penjuru dunia. Dengan demikian interaksi yang telah berlangsung tidak terlepas dari pertukaran berbagai informasi antara individu, kelompok yang melintasi batas Negara, sehingga tidak menutup kemungkinan perubahan di beberapa  aspek kehidupan terjadi. Perkembangan barang-barang seperti telefon, televise, dan internet, menunjukkan bahwa bahwa komunikasi global terjadi sedemikian cepat. Sementara melalui massa semacam turisme memungkinkan kita mesarakan hal dari budaya yang berbeda.
Dunia barat yang begitu gencar mendorong arus Globalisasi yang di tandai dengan adanya perkembangan teknologi komunikasi. Mempunyai pengaruh besar terhadap budaya local karena globalisasi tidak hanya berbicara mengenai interaksi dalam bidang ekonomi yang dilakukan dengan cara perdangan bebas akan tetapi globalisisa juga merupakan persebaran nilai yang merupakan bagian dari budaya.
Budaya barat yang identik dengan kebabasan serta budaya yang lainnya yang tidak sesuai dengan budaya bangsa indonesia menyebabkan terjadinya persaingan  budaya, antara antara budaya local (indonesia) dan budaya barat.
Perseteruan atau persaingan ini akan selalu di tandai kekalahan dan kemenangan, zero sum game. Dalam hal ini bisa kita prediksi satu kebudyaan (lokal) yang tidak di dudukung oleh alat sebagai sebuah kekuatan dengan kebudayaan (barat) yang didukung oleh berbagai sarana atau alat sebagai kekuatan,  maka adalah sesuatu yang tentu jelas bahwa kebudayaan local akan mengalami kekalahan. Badaya local sudah tidak mampu lagi membendung kebudaya barat yang disertai dengan adanya media masa sebagai alat dan kekuatan  finansial untuk membangun/merubah karangka pemikiran masyakat indonesia yang akhirnya juga berimplikasi pada sikap, prilaku. Artinya masyarakat akan selalu masyakat akan selalu berupaya meniru, dan mendapatkan cirri-ciri,karakteristik yang dimiliki oleh orang barat. Dengan alasan Hak Asasi Manusia, banyak mucul gaya hidup dan budaya ala barat yang jauh menyimpang dari budaya ketimuran. Salah satunya adalah munculnya hedonisme. Hidonisme merupakan buah hasil yang di telorkan oleh budaya liberal. Yang beranggapan bahwa tujuan hidup untuk mencarai kesenangan dan kenikmatan materi . asumsi ini di dassarkan pada sebuah pandangan bahwa hidup hanya terjadi satu kali oleh karena itu pemanfaatan atas hidup ini perlu dimaksimalkan.
RUMUSAN MASALAH
Bagaimana pengaruh globalisasi budaya Barat terhadap moralitas bangsa  yang hari mengalami kekalahan dalam perseteruan dalam ranah-ranah dunia global ?
PEMBAHASAN
Semakin hari dunia terasa semakin sempit saja. Sempit bukan dalam artian geografis tapi sempit dari segi komunikasi dan interaksi. Lihatlah ketika orang-orang mulai berkomunikasi antar negara. Kini manusia tak perlu pergi dari satu tempat ke tempat lain untuk dapat berkomunikasi, bahkan manusia tak perlu beranjak dari tempat duduknya. Kemajuan teknologi telah menyebabkan terjadinya bentuk komunikasi dengan mudah misalnya dengan telepon, teevisi, internet dan radio.
Kemajuan teknologi di bidang informasi ini tentunya mendatangkan banyak efek bawaan. Pertukaran informasi yang berlangsung dengan sangat cepat dan mudah telah membawa kita pada suatu kubudayaan baru yaitu kebudayaan liberal yang di diwadahi oleh globalisasi. Seperti halnya hidonisme. Hedonisme sebagai nilai baru yang –bukan sekedar berasal dari Barat, tepatnya berasal dari gaya hidup masyarakat industri modern yang lebih berwatak liberal. Adalah sebuah produk kebudayaan yang kini merambah ke dalam kehidupan masyarakat dunia ketiga, yang secara struktural masih sangat labil di satu sisi dan di sisi lain secara kultural masih cenderung konservatif (teguh memegang nilai-nilai tradisi lokal). Hedonisme bagi masyarakat industri modern adalah sebuah keniscayaan, namun bagi masyarakat tradisional budaya ini merupakan ancaman yang ditafsirkan akan selalu membawa petaka.
Teori globalisasi kultur oleh George Ritzer dalam suatu kasus, kunci perbedaanya adalah apakah seseorang melihat meningkatnya homogenitas atu heterogenitas pada satu titik ektrim  globalisasi kultur telah dijadikan  sebuah medan yang di persiapkan oleh transansional untuk membentuk ruang dan waktu percumbuhan kultur local global dan local yang pada akhirnya mengarah pada pencakokan kultur (hiterogentas). Bertambahnya pengaruh internasional (transanasional ), terasosiasi/tersatukan akan menciptakan homogenetas kultur. Karena kuatnya dominasi Negara-negara pusat kapitalisme global pada persoalan kultur,berimbas pada semakin menghilangnya karakter local. Globalisasi yang membentuk ruang percumbuhan antara kultur global dan kultur local telah menjadikan proses  tarik menarik   antara pencakokan kultur atau imperialisme kultur. dorongan yang semakin kuat oleh kekuatan internasional dan di bantu dengan semakin cepatnya informasi media telah meletakkan imperialisme kultur menjadi lebih dominan.sehingga jangan heran apabila realitas homogenitas menjadi lebih dominan daripada hiterogenitas. Adalah sebuah barang tentu jika hari ini bangsa kita juga tertular oleh penyakit hidonisme yang merupakan hasil pertautan dalam dunia global, antara nilai local dan nilai yang di bawa dari barat melalui globalisasi. Bagi bangsa barat budaya hidonisme merupakan suatu kewajaran bagi manusia karena setiap manusia pasti selalu mendambakan kesenangan dan yang sering menjadi dasar bagi pandangan ini adalah (HAM).
Pada dasarnya hidonisme bagi merupakan budaya barat yang ditantai dengan kebabasan dalam rangka untuk mencapai kebahagiaan/happiness, seperti halnya pergaulan bebas, berpakain bebas, clubbing yang sering ditandai dengan obat-obatan terlarang dan minum-minun keras dan inplikasinya sangat besar terhadap moralitas bangsa, dan begiru juga dengan valentinis day yang merupakan sebuah kebohongan belaka dari hari kasih sayang karna momen ini selalu di warnai oleh dekonstruksi keperawanan,( kesucian bukanlah sesuatu yang utama ) . beberapa catata dibawah ini yang menimpa remaja kita.
Ditengah berita siswa-siswi berprestasi dalam ajang penelitian, olimpiade sains, seni dan olahraga, anak muda Indonesia saat ini terancam dalam masa chaos. Jutaan remaja kita menjadi korban perusahaan nikotin-rokok. Lebih dari 2 juta remaja Indonesia ketagihan Narkoba (BNN 2004) dan lebih 8000 remaja terdiagnosis pengidap AIDS (Depkes 2008). Disamping itu, moral anak-anak dalam hubungan seksual telah memasuki tahap yang mengawatirkan. Lebih dari 60% remaja SMP dan SMA Indonesia, sudah tidak perawan lagi. Perilaku hidup bebas telah meruntuhkan sendi-sendi kehidupan masyarakat kita.
Berdasarkan hasil survei Komnas Perlindungan Anak bekerja sama dengan Lembaga Perlindungan Anak (LPA) di 12 provinsi pada 2007 diperoleh pengakuan remaja bahwa : Sebanyak 93,7% anak SMP dan SMU pernah melakukan ciuman, petting, dan oral seks. Sebanyak 62,7% anak SMP mengaku sudah tidak perawan. Sebanyak 21,2% remaja SMA mengaku pernah melakukan aborsi. Dari 2 juta wanita Indonesia yang pernah melakukan aborsi, 1 juta adalah remaja perempuan. Sebanyak 97% pelajar SMP dan SMA mengaku suka menonton film porno.
Masih banyak kasus yang lainnya yang menimpa anak bangsa kita sebagai akibat dari karangka berfikir liberal yang menjungjung tinggi HAM yang pada akhirnya terjebak pada suatu pandangan hidonis.
Liberalisme merupakan nilai-nilai  yang menekankan kebebasan bagi setiap individu dengan mendasarkan diri  pada HAM.  dalam masyarakat barat adalah sebuah kewajaran bagi bangsa barat. Mengingat itu adalah sebuah nilai/kaidah yang menjadi kesepakatan masyarakat barat yang dijadikan pegangan dalam menyelesaikan berbagai persoalan-persoalan dalam hidup bermasyarakat.
Nilai-nilai/kaidah-kaidah  merupakan bagian dari kebudayaan yang oleh selo sumarjan dan sulaiman sumardi merupakan hasil refleksi dari rasa.Rasa yang meliputi jiwa manusia,mewujudkan kaidah-kaidah dan nilai-nilai social yang perlu untuk mengtur masalah-masalah kemasyarakatan . Didalamnya  termasuk misalnya saja agama, ideology, dll. Karena kaitannya dengan nilai bangsa indonesiapun juga punya nilai tersendiri dan tentunya berbeada dengan nilai-nilai barat yang lebih menekankan pada kebebasan.Bangsa indonesia yang dikenal dengan adat ketimuran yang begitu santun dan taat pada aturan , dan masih sangat menekankan pada nilai-nilai agama dalam menjalani kehidupan tentu sangat bertengtangan dengan barat yang dikenal dengan liberalismenya, skularisme, hidonisme, dan individualistiks
Kesimpulan
Globalisaisi di gembor-gemborkan oleh Negara-negara maju yaitu barat tidak lain merupakn sebuah imperialisme nilai terhadap nilai local yang pada akhirnya berimplikasi pada hilangnya nilai-nilai ketimuran yang sebelumnya diwarnai dengan nilai-nilai religiusitas dan pada gilirannya merosotnya moralitas bangsa. Perseteruan budaya dalam ranah-ranah global yang akhirnya berimplikasi pada pencakokan terhadap budaya local atau menciptakan homogenitas budaya pada akirnya budaya barat yang di tandai dengan kebebasan telah mendapatkan legitimasi dari genarasi bangsa untuk di konsumsi dan  dibiarkan mewarnai bangsa kita.

tarian cinta asmara

Berdasarkan kitab Wedhapradangga, tarian Bedhoyo Ketawang ini diciptakan oleh Sultan Agung, dan Kangjeng Ratu Kidul sendirilah yang diminta hadir ke daratan untuk mengajarkan secara langsung tarian Bedhaya Ketawang pada para penari kesayangan Sinuhun. Hal ini memang terlaksana, pelajaran tari ini dilakukan setiap hari Anggorokasih atau hari Selasa Kliwon. Sampai hari inipun, para penari kraton yang bertugas menarikan Bedhoyo Ketawang masih melakukan latihan pada hari yang ditentukan ini. Mengingat bahwa tari ini dipandang sebagai satu tarian ciptaan Ratunya seluruh mahluk halus, seringkali dipercaya bahwa sang penciptanya hadir setiap kali Bedhoyo Kethawang ditarikan.
Sembilan penari perempuan, berbusana dodot ageng dengan batik corak banguntulak alas-alasan menarikan tarian kraton, Bedhoyo Ketawang selama 2,5 jam. Konon, gending ini menjadi lebih terasa sakral ketika Sunan Kalijogo ikut dalam proses pembuatannya. Tari ini biasanya dipagelarkan hanya acara Tinggalan dalem Jumenengan atau pada acara hari jadi penobatan raja dan hanya boleh dilihat oleh para pejabat dan kerabat keraton. Di jaman sekarang, tarian Bedhoyo dipagelarkan dan dapat dilihat secara bebas oleh khalayak pada tiap bulan Sya’ban. Namun bukan itu yang menjadi fokus tulisanku hari ini.
Dari beberapa buku yang ku baca, dan juga pembicaraan jarak jauh dengan salah satu mantan penari kraton dengan spesialisasi Bedhoyo Ketawang yang bernama Raden Ayu Sri Sulastri banyak hal yang dapat digali.
Sebelum menarikan tarian ini, sembilan penari Bedhoyo Ketawang haruslah melakukan ritual puasa, menyucikan diri lahir dan bathin tidak dalam keadaan ‘berhalangan bulanan’ ketika menarikan [hal ini membuat adanya penari cadangan yang dipersiapkan untuk saat-saat tak terduga].
[Jelas dalam pandangan kaum moderat, masalah katuranggan yang tercantum dalam primbon-primbon merupakan satu hal kuno yang tak dapat disandingkan dengan alam logika. Arti kata sensulitas di era modern ini juga lebih mengedepankan sosok perempuan yang bertubuh super langsing, berpakaian minim nan terbuka, menggunakan pemerah bibir yang super merah, dan berambut bucheri alias 'bule cat sendiri'. Berbeda dengan sensualitas yang diusung oleh kaum Jawa tempoe doeloe.
Sensualitas tiap jaman memang berubah-ubah, tergantung dari penilaian dan juga pandangan orang yang melihatnya. Semua serba relatif dan tergantung penilaian dan ego para pria yang mempunyai hak memilih. Sesuai perkataan Jawa, -pria berhak memilih, perempuan berhak menolak-. Kaum feminis yang mengusung doktrin kesetaraan pasti akan kembali mati-matian melawannya. So,gimana jika hal itu dibalik saja? Kembali ke masalah Bedhoyo Ketawang, jika dikatakan sensualitas para penari Bedhoyo nampak jelas terlihat, hal itu bukanlah hal yang aneh. Dilihat dari sisi filosofis Bedhoyo Ketawang sendiri, melambangkan curahan cinta asmara Kanjeng Ratu Kidul kepada Sultan Agung.
Hal ini terlukiskan dalam setiap gerak tangan, gerakan tubuh, dan juga cara memegang sondher. Semua gerak merayu dalam Bedhoyo itu dirangkum sedemikian halusnya, hingga seringkali mata awam sangat sukar memahaminya. [Jelas, dengan 2,5 jam pagelaran dan melihat tari yang sangat lamban, bagi yang tak berkepentingan tak lebih hanya menciptakan kejenuhan]. Ada satu hal yang mungkin mudah dipahami oleh orang awam bahwa tarian ini adalah tarian lambang percintaan antara Ratu Kidul dengan Sultan Agung adalah, sembilan penari ini memakai busana dodot ageng dan paes ageng yang lazim digunakan oleh pasangan pengantin.
Dari Eyang Sulastri aku tahu bahwa dari beberapa cerita diketahui bahwa Sinuhun Paku Buwana X pernah menceritakan bahwa tarian ini murni melambangkan cinta asmara Kangjeng Ratu Kidul kepada Sultan Agung. Memang upaya tersebut selalu dapat dielakkan oleh Sultan Agung, bahkan Ratu Kidul meminta agar Sinuhun ikut menetap di samudera dan bersinggasana di Sakadhomas Bale Kencana, [Singgasana yang dititipkan oleh Prabu Ramawijaya di dasar lautan].
Namun demikian, Sultan Agung tidak menuruti kehendak Ratu Kidul karena masih ingin mencapai Sangkan Paran. Selanjutnya, begitu Sultan Agung bersedia memperistri Ratu Kidul, maka konsewensi secara turun temurun, setiap keturunannya yang bertahta di pulau Jawa akan terikat janji dengan Kangjeng Ratu Kidul pada hari peresmian kenaikan tahtanya.
Berbeda dari istana Yogyakarta yang sudah lama meninggalkan tari upacara magis sebagai aktualisasi “perkawinan” raja Jawa dengan Ratu Selatan (yang di Keraton Yogya dinamakan tari Bedhaya Semang), Keraton Kasunanan Surakarta hingga kini setiap tahun masih mempergelarkan tari upacara yang berfungsi sama, yang bernama Bedhaya Ketawang. Perbedaan penyikapan terhadap warisan budaya di antara kedua keraton utama Jawa itu menunjukkan bahwa yang satu lebih memberi tekanan pada aspek budaya yang magis-ritual, sedangkan yang lain lebih mementingkan nilai astetik dan upaya pemasyarakatan.
Kesimpulannya bahwa setiap tarian memiliki keistimewaan, ada tarian yang melambangkan cinta, dendam, bahkan sampai penghambaan terhadap tuhannya. Di Indonesia sendiri banyak tarian dari daerah yang melambangkan tarian yang masih  mempunyai unsur agama budha atau hindu sehingga pada zaman sekarang yang dimana negeri ini sudah di dominasi oleh mayoritas muslim maka tarian semacam itu pun akan semakin di tinggalkan karena tidak sesuai dengan norma-norma agama islam itu sendiri. Semua gerakan yang ada di tarian itu merupakan bentuk gerakan yang mereka bentuk sebagai wujud dari ekspresi mereka terhadap sesuatu dan pada zaman sekarang tarian lebih mengarah ke stylish sehingga anak muda pada zaman sekarang lebih memaknai tarian sebagai suatu gaya bukan sebagai suatu icon budaya yang harus di lestarikan.