Senin, 17 Desember 2012

Analisis Pengaruh Financial Leverage Terhadap Return On Investment (ROI), Return On Equity (ROE), dan Earning Per Share (EPS) Pada Sembilan Perusahaan Food and Beverage yang terdaftar di BEI



Nama : Muhammad Iqbal B
Npm : 14210744
Kelas : 3EA12
Tugas :Metode riset
Judul : Analisis Pengaruh Financial Leverage Terhadap Return   On    Investment (ROI), Return On Equity (ROE), dan Earning Per Share (EPS) Pada Sembilan Perusahaan Food and Beverage yang terdaftar di BEI.


BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah

Sekarang merupakan Era Globalisasi, dimana banyak sekali perusahaan yang semakin melebarkan usahanya dalam mencapai keuntungan. Selain itu perusahaan yang berdiri memiliki satu tujuan utama yaitu mempertahankan perusahaan yang telah dijalankan untuk tetap hidup agar tidak terjadi kerugian yang sangat merugikan perusahaan yang akan mengakibatkan bangkrutnya suatu perusahaan. Untuk mencapai tujuan tersebut setiap perusahaan tentunya harus bekerja keras dan bisa menyesuaikan diri terhadap perubahan – perubahan di dalam negeri seperti kebijakan– kebijakan pemerintah dan kondisi Ekonomi dan Politik.
Setiap perusahaan juga dalam menjalankan usahanya tentunya bertujuan untuk mensejahterakan pemilik ( shareholder ) melalui pengambilan setiap keputusan dalam kebijakan investasi, keputusan untuk pendanaan dan keputusan deviden yang tercermin dalam harga saham di pasar modal, demikian juga dilihat dari sudut pandang manajemen keuangan. Tujuan ini sering diterjemahkan sebagai suatu usaha untuk memaksimumkan nilai perusahaan ( Almilia dan Silvy :2006 ).
Maka untuk memenuhi hal di atas setiap perusahaan dalam menjalankan usahanya memerlukan dana yang cukup agar setiap kegiatan operasional perusahaan bisa terpenuhi dan dapat berjalan dengan lancar. Perusahaan tentunya tidak hanya mengharapkan dana dari dalam perusahaan tetapi adakalanya perusahan mengalami kekurangan dana dan akan mencari dana untuk menutupi kekurangan dana tersebut. Untuk memperoleh dana tersebut perusahaan dapat menanamkan modal baru dari pemilik perusahaan atau dengan cara melakukan pinjaman ke pihak luar perusahaan. Jika perusahaan melakukan pinjaman terhadap pihak luar maka akan timbul utang sebagai konsekuensi dari pinjamannya dan itu berarti perusahaan tersebut telah melakukan Financial Leverage. Suatu perusahaan dikatakan menggunakan “Financial
           
Leverage” jika ia menggunakan sebagian dari aktivanya dengan sekuritas pembayaran bunga, misalnya hutang pada bank, menerbitkan obligasi atau saham preferen. Perubahan EBIT (Earning Before Interest and Tax) akan mengakibatkan perubahan EPS (Earning per Share). Financial Leverage digunakan untuk mengukur tingkat kepekaan antara EPS terhadap perubahan EBIT perusahaan.

Dari berbagai penelitian yang telah dilakukan bahwa apabila financial leverage meningkat maka ROI akan menurun, ini disebabkan karena semakin banyak dana yang diinvestasikan maka semakin banyak pula aktiva yang terpakai sehingga mengakibatkan penurunan aktiva. ROI ( Return on Investment) atau dalam bahasa Indonesia disebut sebagai Laba atas investasi rasio uang yang diperoleh atau hilang pada suatu investasi. ROI digunakan untuk membandingkan laba atas investasi antara investasi – investasi yang sulit dibandingkan dengan menggunakan nilai moneter. Dalam hubungan financial leverage terhadap ROE apabila laba perusahaan tersebut meningkat maka return on equity (ROE) juga akan meningkat. Di samping itu pula financial leverage juga mengalami kenaikan akibat dari meningkatnya penggunaan utang oleh perusahaan tersebut. Return on equty (ROE) merupakan hasil pengembalian atas ekuitas pemegang saham dengan mengukur laba yang diperoleh terhadap nilai bukunya. Selain terhadap ROI dan ROE financial leverage juga berdampak terhadap EPS yaitu apabila labanya naik maka EPSnya juga akan naik. Earning per share (EPS) merupakan hasil yang di peroleh pemegang saham untuk setiap lembar saham biasa yang beredar. Pihak manajemen perusahaan mengunakan financial leverage dengan tujuan agar labanya menjadi meningkat, dengan meningkatnya laba maka earning per share (EPS) akan meningkat pula. Apabila pihak manajemen bisa mengelola dengan baik financial leveragenya agar dapat mencapai tingkat laba yang diharapkan sehingga return yang diterima per lembar sahamnya menjadi meningkat maka itu akan menjadi suatu bahan untuk pengambilan keputusan bagi para calon investor agar bersedia menanamkan investasinya pada perusahaan tersebut.

            Berdasarkan penjelasan diatas meningkatnya penggunaan utang yang dilakukan oleh perusahaan mengakibatkan total aktiva perusahaan akan menjadi meningkat, dengan meningkatnya aktiva perusahaan diharapkan laba yang dihasilkan perusahaan meningkat pula. Perusahaan yang menggunakan financial leverage, sangat penting untuk memperhatikan kebijaksanaan penggunaan pinjaman yang harus melalui perhitungan yang tepat, karena semakin besar jumlah pinjaman maka semakin besar resiko utang tidak terbayar. Karena itu penggunaan modal pinjaman dapat dibenarkan apabila tambahan modal tersebut mempunyai dampak financial menguntungkan yang akan terwujud apabila tingkat pendapatan dengan adanya modal pinjaman tersebut lebih besar daripada biaya modalnya.
Banyak pihak yang telah melakukan penelitian mengenai pengaruh financial leverage terhadap return on equity (ROE) yang sudah pernah dilakukan oleh Beard dan Dees (1979), Mandra(1995), dan beberapa nama lainnya dan mempunyai kesimpulan yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh positif dan signifikan antara financial leverage terhadap ROE, dan ada yang menyatakan terdapat pengaruh negative antara  financial leverage terhadap ROE yaitu oleh Martono ( 2002 ). Dalam Penulisan ini saya sebagai penulis akan mencoba melakukan penelitian dengan mengikutsertakan dua variable yaitu Return on Investment dan Earning per Share.

            Berdasarkan latar belakang diatas, penulis ingin membuat penelitian dengan judul “Analisa Pengaruh Financial Leverage Terhadap Return On Investment ( ROI ), Return On Equity ( ROE ), dan Earning Per Share ( EPS ) Pada Perusahaan Food and Beverage yang terdaftar di BEI.


1.2        Rumusan dan Batasan Masalah
Adapun masalah yang akan dibahas dalam penulisan ini adalah :
1.      Bagaimana pengaruh financial leverage terhadap Return On  Investment (ROI)
2.      Bagaimana pengaruh financial leverage terhadap Return On Equity  (ROE)
3.      Bagaimana pengaruh financial leverage terhadap Earning Per Share (EPS)

            Agar penelitian ini dapat memberikan pemahaman sesuai yang diharapkan, maka batasan masalah dalam penulisan ini akan dibahas mengenai “Pengaruh Financial Leverage Terhadap Return On Investment (ROI), Return On Equity (ROE), dan  Earning Per Share (EPS) pada Sembilan Perusahaan Food and Beverage yang terdaftar di BEI.

1.3       Tujuan Penelitian
            Adapun tujuan penelitian  untuk penulisan ilmiah ini adalah untuk menganalisis dan mengetahui :
            1.         Pengaruh financial leverage terhadap Return On Investment (ROI)
            2.         Pengaruh financial leverage terhadap Return On Equity  (ROE)
            3.         Pengaruh financial leverage terhadap Earning Per Share (EPS)

1.4       Manfaat Penelitian
            Manfaat penelitian ilmiah ini adalah :
1.      Hasil penelitian ini dapat digunakan oleh perusahaan dalam pengambilan      keputusan untuk menggunakan sumber dana pinjaman yang mempunyai beban tetap untuk memperbesar tingkat penghasilan bagi pemegang saham.          
2.      Dengan penulisan ini dapat menambah pengetahuan dan wawasan sekitar teori – teori yang dibahas dalam penelitian ini serta dapat sebagai acuan untuk orang – orang yang membutuhkan materi yang sama dengan penulisan ini.


1.5       Metodologi Penelitian
1.5.1    Objek Penelitian
            Objek penelitian dalam penulisan ini adalah perusahan Food and Beverage yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia ( BEI ) tahun 2010.  

1.5.2    Data/variable
            Variabel digolongkan menjadi 2, yaitu :
1.      Variabel Bebas ( Independen ) adalah variable yang terjadi dan merupakan pendugaan dari adanya sebab yang diperkirakan.Dalam penelitian ini, financial leverage sebagai variable bebas yang dituliskan sebagai variable X.
2.      Variabel Tidak Bebas ( Dependen ) adalah variable yang terjadi kemudian akibat yang diperkirakan atau variable yang diduga nilainya.Didalam penelitian ini, ROI, ROE, dan EPS sebagai variable tidak bebas yang dituliskan sebagai variable Y.

1.5.3    Metode Pengumpulan Data
            Dalam hal ini penulis menggunakan data sekunder, yaitu berupa laporan keuangan yang terdiri dari neraca dan laporan laba rugi dari masing – masing perusahaan Food and Beverage yang terdaftar di BEI yang diperoleh.



1.5.4    Hipotesis
            Pada pengujian Hipotesis dengan koefisien korelasi memiliki tujuan untuk mengetahui apakah Variable X mempunyai pengaruh dengan Variabel Y, atau perubahan Variabel X mempengaruhi Variabel Y.

Bentuk persamaan regresi linear sederhana :
·         Untuk persamaan antara financial leverage dan ROI, persamaannya adalah :
a.         Y = a + bX
                        ROI = a + bFL
·         Untuk persamaan antara financial leverage dan ROE, persamaannya adalah :

b.         Y  = a + bX
                        ROE = a + bFL
·         Untuk persamaan antara financial leverage  dan EPS, persamaannya adalah :
Y = a + bX
EPS = a + bFL

Hipotesis dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut :
H1       : Financial leverage berpengaruh terhadap Return On Investment (ROI).
H2       : Financial leverage berpengaruh terhadap Return On Equity ( ROE ).
H3       : Financial leverage berpengaruh terhadap Earning Per Share (EPS).

1.5.5    Alat analisis yang digunakan
Alat analisis yang digunakan untuk menguji hipotesis ini adalah dengan menggunakan SPSS 16,0  metode dalam analisis ini termasuk ke dalam analisis kuantitatif diantaranya, yaitu :

1.         Uji Normalitas
            Tujuan dari Uji normalitas adalah untuk mengetahui suatu variable normal atau tidak. Normal disini normal dalam arti mempunyai distribusi data yang normal.Imam Ghozali ( 2001 : 74 ), menyatakan bahwa uji normalitas adalah untuk menguji apakah model regresi, variable independen dan variable dependennya memiliki distribusi data normal atau tidak. Model regresi yang baik adalah memiliki distribusi data normal atau mendekati normal. Pengujian normalitas dalam penelitian ini menggunakan analisis grafik.

2.         Analisis Korelasi Sederhana
            Analisis iini digunakan untuk mengetahui ada atau tidak keeratan hubungan antara Variabel X dan Variabel Y, dimana tingkat korelasi kedua variable dapat diperhitungkan.

3.         Analisis Koefisien Determinasi
Analisis ini digunakan untuk menunjukkan berapa persen fluktuasi atau variasi pada suatu variable ( Y ) dan dapat dijelaskan atau disebabkan oleh variable lain ( X ).

4.         Analisis Regresi Linear Sederhana
            Analisis Regresi merupakan model yang akan menjelaskan sifat hubungan kedua variable ( X dan Y )yang diteliti, dimana dalam model tersebut terdapat sebuah variable terikat ( dependen ) dan sebuah variable bebas ( independent )

5.         Analisis Uji “t” ( t test )
Analisis ini digunakan untuk mengetahui signifikansi pengaruh variable bebas ( X ) secara individual terhadap variable terikat ( Y ).
a          Jika Variabel -ttabel < thitung  <  ttabel maka Ho diterima yang artinya tidak ada pengaruh antara veriabel bebas dengan variable terikat.
b          Jika -ttabel > thitung atau ttabel < thitung maka Ho ditolak artinya ada pengaruh antara variable bebas dengan variable terikat.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1       Objek Penelitian

Objek penelitian dalam penulisan ini adalah perusahan – perusahaan Food and Beverage yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode Januari 2010 – Desember 2010

3.2       Data/Variabel Yang Digunakan

Variabel yang digolongkan menjadi 2, yaitu :

1.      Variabel bebas (Independen) adalah variable yang terjadi dan merupakan pendugaan dari adanya sebab yang diperkirakan. Di dalam penelitian ini, financial leverage sebagai variable bebas yang dituliskan sebagai variable X.

2.      Variabel tidak bebas (Dependen) adalah variable yang terjadi kemudian akibat yang diperkirakan atau variable yang diduga nilainya. Didalam penelitian ini, ROI, ROE, dan EPS sebagai variable tidak bebas yang dituliskan sebagai variable Y.

3.3       Metode Pengumpulan Data

Dalam hal ini penulis menggunakan data sekunder, yaitu berupa laporan keuangan yang terdiri dari neraca dan laporan laba rugi dari masing – masing perusahaan Food and Beverage yang terdaftar di BEI yang diperoleh dari Pusat Referensi Pasar Modal (PRPM) yang berada di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI)  Jalan Jenderal Sudirman kav. 52 – 53 Jakarta Pusat dan melalui Website.idx.com.

3.4       Hipotesis

Pengujian hipotesis dengan koefisien korelasi bertujuan untuk mengetahui apakah variable X mempunyai pengaruh dengan Variabel Y, atau perubahan variable X mempengaruhi Variabel Y.

BAB IV
PEMBAHASAN

4.1       Financial Leverage
Berdasarkan rumus financial leverage sebagai berikut :
                       
Financial Leverage = Total Hutang / Total Aktiva * 100%

Untuk dapat menghitung financial leverage, maka harus diketahui besarnya total hutang dan total aktiva. Tabel berikut ini menyajikan berapa besarnya aktiva, hutang dan financial leverage pada perusahaan Food and Beverage yang terdaftar di BEI tahun 2010.         
Tabel 4.1
Financial Leverage
Daftar Perusahaan
Jumlah Aktiva
( dalam jutaan )
Hutang
( dalam jutaan )
Financial Leverage
Rp  13.361.313
Rp   3.999.132
30%
PT Akasha Wira Internasional
Rp   324.493
 Rp  224.615
69%
PT Indofood Sukses Makmur Tbk
Rp  47.275.955
Rp   22.423.117
47%
PT Mayora Indah Tbk
Rp  4.399.191.135.535
 Rp 2.358.692.152.789
54%
PT Cahaya Kalbar Tbk
Rp 850.469.914.144
 Rp 541.717.109.078
64%
PT Davomas Abadi Tbk
Rp  2.857.204.618.547
 Rp  1.891.735.622.021
66%
PT Delta Djakarta Tbk
Rp    708.583.733
 Rp  115.224.947
16%
PT Ultrajaya Milk Industri & Trading company Tbk
Rp  2.006.595.762.260
 Rp 705.472.336.001
35%
PT Sekar Laut Tbk
Rp    199.375.442.469
 Rp 81.070.404.211
41%
Perusahaan Food and Beverage yang terdafta di BEI
Tahun 2010


BAB V
PENUTUP


5.1       Kesimpulan

Berdasarkan penelitian dan pembahasan yang terjadi pada bab – bab sebelumnya maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut :

1.      Analisis pengaruh financial leverage terhadap Return On Investment (ROI) pada perusahaan Food and Beverage dapat dilihat dari t-tabel sebesar ± 2.262 dan t-hitung sebesar -2.064 yang berarti bahwa - t-tabel > t-hitung yang artinya adalah Ho diterima sehingga financial leverage dan ROI menunjukkan  pengaruh negative dan tidak signifikan.

2.      Analisis pengaruh financial leverage terhadap Return On Equity (ROE) pada perusahaan Food and Beverage dapat dilihat dari t-tabel sebesar ± 2.262 dan t-hitung -0.309 hal ini berarti bahwa - t-tabel > t-hitung yang artinya Ho diterima sehingga financial leverage dan ROE tidak mempunyai pengaruh yang signifikan. Hal ini disebabkan laba yang diperoleh perusahaan diprioritaskan terlebih dahulu untuk membayar hutang dan  biaya bunganya sehingga akan mengurangi laba bagi pemegang saham dan pada kondisi seperti ini menyebabkan financial leverage tidak dapat meningkatkan atau menurunkan jumlah ROE sehingga dapat dikatakan financial leverage tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap ROE.

3.      Analisis pengaruh financial leverage terhadap Earning Per Share (EPS) pada perusahaan Food and Beverage dapat dilihat dari t-tabel sebesar ± 2.262 dan t-hitung 0.075 hal ini berarti bahwa t-tabel > t-hitung yang artinya Ho diterima sehingga financial leverage dan EPS tidak mempunyai pengaruh yang signifikan. Hal ini disebabkan, ketika perusahaan telah melakukan financial leverage, namun pemegang saham tetap menambahkan modalnya. Ini memperlihatkan kondisi perusahaan dalam keadaan yang tidak sehat yang mungkin disebabkan adanya krisis global sehingga hal ini membuat financial leverage tidak berpengaruh terhadap EPS.

5.2       Saran

1.      Perusahaan yang melakukan pinjaman atau menjadikan utang sebagai salah satu sumber modal atau dananya dalam menjalankan usahanya sebaiknya  menggunakan utang tersebut pada penggunaan dan perhitungan yang tepat agar dalam penggunaan utang tersebut bisa menghasilkan keuntungan bagi perusahaan dan mempunyai nilai positif untuk perkembangan perusahaan.
2.      Perusahaan juga sebaiknya menginvestasikan modalnya, baik modal asing maupun modal sendiri ke dalam aktiva – aktiva perusahaan yang dinilai efektif dan efisien guna meningkatkan ROI, ROE dan EPS perusahaan, dalam hal ini jika jumlah modal meningkat maka dapat digunakan untuk investasi guna menghasilkan laba bersih. Sebab jika laba bersih yang dihasilkan lebih besar daripada peningkatan jumlah modal maka ROI, ROE dan EPS perusahaan akan meningkat.

Jumat, 30 November 2012

Faktor yang mempengaruhi kenaikan harga tiket kereta api jabodetabek


PT Kereta Api Indonesia (KAI) akan menaikkan harga tiket kereta commuter (commuter line) mulai 1 Oktober 2012.
"Untuk setiap lintas semuanya sama, tambahannya Rp 2000 jadi kalau Bogor-Jakarta sekarang Rp 7000 nanti akan menjadi Rp 9000," kata Corporate Secretary PT KAI Makmur Syaheran pada BBC Indonesia.
Kenaikan itu dinilai perlu untuk membiayai perbaikan fasilitas termasuk perawatan gerbong.
"Ini yang utama agar kehandalan sarana dan prasaran bisa dijaga agar kemungkinan kereta mogok dan pembatalan perjalanan bisa dikurangi sampai maksimal," .
PT KAI sudah melakukan perhitungan kemampuan penumpang untuk membayar sebelum memutuskan besar kenaikan.
Kereta commuter tidak mendapat subsidi dari pemerintah karena itu PT KAI diberi hak untuk menentukan perhitungan dasar.
Reaksi penumpang
Sejumlah pelanggan kereta commuter mengatakan mereka mendukung keputusan ini selama ada tindakan konkrit perbaikan layanan.
"Perbaikan hal-hal yang kecil dulu deh, commuter line kan kelebihannya karena ada AC tapi AC sering mati dan panas," kata Dian, pelanggan commuter jurusan Bekasi-Jakarta PP.
"Minta diperbanyak kereta ke Depok kalau pagi, biasanya kalau jam 9-12, kereta ke Depok jaraknya bisa setengah jam bahkan lebih," kata seorang mahasiswa bernama Andri.
Kompensasi dari PT KAI
Lagian, Makmur menambahkan, kenaikan tarif akan dikembalikan dalam bentuk perbaikan dan terobosan pelayanan. Makmur mencontohkan akan ditempatkannya dua orang petugas kebersihan serta empat orang petugas keamanan di setiap rangkaian. Selain itu rencananya akan ada pula pelayanan kesehatan di beberapa stasiun.

Komunikasi lewat pengumuman-pengumuman juga akan ditingkatkan baik di dalam rangkaian kereta maupun di stasiun atau peron. Pelayanan yang satu ini dijanjikan disediakan dalam bentuk digital.

“Baru satu kereta yang sudah kami pasangi televisi layar LCD dan akan kami tambah lagi nanti,” katanya sambil menambahkan, “Otomatisasi teknologi di setiap stasiun juga akan ditambah.”

Peningkatan pelayanan termasuk dengan bertambahnya jumlah unit kereta itu sendiri serta jumlah perjalanannya. Saat ini, Makmur mengatakan, sudah ada 600 unit kereta dari jumlah 386 unit tiga tahun lalu. “Tahun ini kami juga akan membeli sebanyak 90 unit kereta dari Jepang.”
Kereta api anjlok karena ada rel kereta yang gompal
Petugas melakukan evakuasi KRL Commuter Line yang anjlok di stasiun Cilebut, Bogor, Jabar, Kamis (4/10). Evakuasi Commuter Line yang diperkirakan selama delapan jam tersebut menyebabkan perjalanan kereta api dari Bogor menuju Jakarta dan sebaliknya terganggu. (ANTARA/Jafkhairi)
Ada kira-kira lima menit kami terkurung di dalam. Sampai ada yang inisiatif untuk memecahkan kaca jendela tapi tak lama setelah itu baru terbuka pintunya
Bogor (ANTARA News) - Humas PT KAI Daerah Operasi I Jabodetabek Mateta Rijalulhaq mengatakan, kereta anjlok di Stasiun Cilebut diduga disebabkan oleh adanya rel kereta yang "gompal".

"Diduga ada rel kereta yang 'gompal' jadi ketika kereta akan berhenti menyebabkan anjlok keluar dari rel," katanya saat ditemui di lokasi kejadian, Kamis.

Mateta menjelaskan, rel "gompal" maksudnya adalah rel yang terluka atau rel lepas di antara persambungan rel yang tidak terlalu besar seukuran 20cm sehingga sangat mempengaruhi kondisi kereta.

Menurut Mateta, perawatan rel rutin dilakukan setiap saat. Terjadinya rel "gompal" bukan karena kurang perawatan.

"Ini bukan kereta yang pertama berangkat. Kalau perawatan kurang otomatis yang terkena kereta awal. Tapi ini kereta perjalanan jam 06.07 WIB. Karena perjalanan kereta-kereta sebelumnya juga mempengaruhi," katanya.

Mateta mengatakan, pihaknya secara internal akan melakukan penyelidikan terkait anjloknya kereta nomor 435 tujuan Jakarta tersebut. Anjloknya kereta terjadi sekitar pukul 06.15 WIB. Kereta tersebut adalah commuter line nomor 435 yang berangkat dari Bogor menuju Jakarta.

Saat hendak berhenti di stasiun Cilebut, kereta mengalami gangguan dan tiba-tiba anjlok dan keluar dari rel lalu menabrak peron tengah. Kereta ketiga dari rangkaian tersebut melintang di antara rel Jakarta dan Bogor sehingga perjalanan kereta terganggu.

Menurut Galang (35) salah satu penumpang, kejadian tersebut sempat membuat panik penumpang yang ada di dalam kereta.

"Dari awal berangkat kira-kira sudah dekat Cilebut, jalannya sudah tidak enak. Kereta goyang-goyang. Lalu tiba-tiba bergetar dan dengan suara dentuman keras," katanya.

Galang mengatakan, saat kereta menabrak peron, getarannya terasa ke seluruh kereta. Saat itu kereta penuh penumpang yang hendak berangkat kerja.

Sesaat setelah kereta anjlok dan menabrak peron tengah, kepanikan penumpang semakin menjadi saat pintu kereta tidak terbuka.

"Ada kira-kira lima menit kami terkurung di dalam. Sampai ada yang inisiatif untuk memecahkan kaca jendela tapi tak lama setelah itu baru terbuka pintunya. Semua penumpang berhamburan keluar kereta," katanya.

Hingga berita ini diturunkan proses evakuasi rangkaian kereta masih terus dilakukan. Pertugas teknis dari PT KAI telah melakukan evakuasi dengan mengangkat rangkaian kereta menggunakan hidrolik.

Rel kereta api longsor akibat penyempitan sungai kalibaru
Jakarta - Jalur kereta api Jakarta-Bogor di Cilebut longsor pada Rabu (21/11) lalu. Menurut Direktur Keselamatan Ditjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan, Hermanto, penyebab longsor jalur kereta penghubung Jakarta- Bogor tersebut karena penyempitan sungai.

"Longsor dikarenakan penyempitan sungai Kalibaru akibat adanya pemukiman di bantaran kali. Sehingga pas kejadian hujan besar membuat air meluap ditambah saluran irigasi sudah dangkal dan banyak sampah," kata Hermanto dalam konprensi pers di ruang rapat Gedung Karya Kementerian Perhubungan, Jalan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Kamis (29/11/2012).

Selain penyebab, Hermanto juga menjelaskan faktor-faktor apa saja yang jadi penghambat di saat perbaikan rel. Salah satunya tingginya curah hujan di daerah tersebut dan minimnya akses untuk mobil-mobil besar pengangkut bahan-bahan material yang dibutuhkan di daerah itu.

"Dan masih dibutuhkan penelitian struktur tanah lebih lanjut untuk menentukan bidang longsor apakah kuat untuk dilalui," ujar Hermanto.

Hermanto juga menambahkan saat ini di lokasi jalur rel kereta yang longsor sedang dilakukan penimbunan. Dan nantinya jika sudah selesai, Dirjen Kereta Api akan menguji dulu apakah jalur sudah layak untuk dilewati.

"Namun kita membutuhkan waktu 10 hari dimulai dari hari ini. Jadi diperkirakan 10 Desember 2012 akan selesai dan untuk jalur hilir diberi perkuatan dengan menggunakan sheet pile hingga kedalaman bidang longsor agar jalur tersebut kuat untuk dilalui," imbuhnya.



Polri Tunggu Hasil Pemeriksaan KY Soal Hakim Agung Yamani
Polri menyatakan pihaknya masih menunggu hasil pemeriksaan internal Mahkamah Agung terkait dugaan pemalsuan vonis terhadap gembong narkotika Hillary K Chimize.
"Sangat penting untuk mendapatkan info awal yang kemudian penyidik akan mempelajarinya, info awal itu adalah sebagai bukti permulaan yang cukup," kata Karopenmas Polri, Brigjen Pol Boy Rafli Amar, di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jakarta, Selasa (29/11/2012).
Info awal yang dimaksud itu adalah laporan dari hasil pemeriksaan Komisi Yudisial (KY) terkait adanya dugaan manipulasi putusan Peninjauan Kembali (PK) terhadap gembong narkotika Hilary dari hukuman mati menjadi 15 tahun penjara, dan belakangan putusan tersebut dikorting lebih rendah menjadi 12 tahun penjara.
"Info awal bisa dari KY, karena kan saat ini masih ada pemeriksaan etik. Bilamana dalam pemeriksaan itu ada unsur pidana itulah yang diharapkan di sharing ke kita," papar Boy.
Mengenai adanya surat yang dilayangkan kepada Bareskrim Polri dari KY, Boy menyatakan pihaknya masih mempelajari isi dari surat tersebut.
"Setelah nanti dipelajari akan dilakukan analisa fakta untuk proses penyelidikan selanjutnya, akan sangat penting penyidik untuk pelajari konten yang ada dalam surat itu," jelas Boy.

Daftar pustaka
http://www2.tempo.co/read/news/2012/10/04/064433660/Kronologi-Kereta-Anjlok-di-Stasiun-Cilebut
http://www.republika.co.id/berita/nasional/jabodetabek-nasional/12/10/04/mbcvie-kereta-anjlok-penumpang-menumpuk-di-stasiun-depok
http://www.antaranews.com/berita/336773/rel-gompal-diduga-sebabkan-kereta-anjlok
http://news.detik.com/read/2012/11/29/151121/2105067/10/inilah-penyebab-jalur-kereta-jakarta-bogor-di-cilebut-longsor
http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=312463
http://news.detik.com/read/2012/11/29/151121/2105067/10/inilah-penyebab-jalur-kereta-jakarta-bogor-di-cilebut-longsor
http://www.bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia/2012/07/120703_trainfare.shtml















Faktor yang mempengaruhi kenaikan harga tiket kereta api Jabodetabek


PT Kereta Api Indonesia (KAI) akan menaikkan harga tiket kereta commuter (commuter line) mulai 1 Oktober 2012.
"Untuk setiap lintas semuanya sama, tambahannya Rp 2000 jadi kalau Bogor-Jakarta sekarang Rp 7000 nanti akan menjadi Rp 9000," kata Corporate Secretary PT KAI Makmur Syaheran pada BBC Indonesia.
Kenaikan itu dinilai perlu untuk membiayai perbaikan fasilitas termasuk perawatan gerbong.
"Ini yang utama agar kehandalan sarana dan prasaran bisa dijaga agar kemungkinan kereta mogok dan pembatalan perjalanan bisa dikurangi sampai maksimal," .
PT KAI sudah melakukan perhitungan kemampuan penumpang untuk membayar sebelum memutuskan besar kenaikan.
Kereta commuter tidak mendapat subsidi dari pemerintah karena itu PT KAI diberi hak untuk menentukan perhitungan dasar.

Reaksi penumpang
Sejumlah pelanggan kereta commuter mengatakan mereka mendukung keputusan ini selama ada tindakan konkrit perbaikan layanan.
"Perbaikan hal-hal yang kecil dulu deh, commuter line kan kelebihannya karena ada AC tapi AC sering mati dan panas," kata Dian, pelanggan commuter jurusan Bekasi-Jakarta PP.
"Minta diperbanyak kereta ke Depok kalau pagi, biasanya kalau jam 9-12, kereta ke Depok jaraknya bisa setengah jam bahkan lebih," kata seorang mahasiswa bernama Andri.

Kompensasi dari PT KAI
Lagian, Makmur menambahkan, kenaikan tarif akan dikembalikan dalam bentuk perbaikan dan terobosan pelayanan. Makmur mencontohkan akan ditempatkannya dua orang petugas kebersihan serta empat orang petugas keamanan di setiap rangkaian. Selain itu rencananya akan ada pula pelayanan kesehatan di beberapa stasiun.

Komunikasi lewat pengumuman-pengumuman juga akan ditingkatkan baik di dalam rangkaian kereta maupun di stasiun atau peron. Pelayanan yang satu ini dijanjikan disediakan dalam bentuk digital.

“Baru satu kereta yang sudah kami pasangi televisi layar LCD dan akan kami tambah lagi nanti,” katanya sambil menambahkan, “Otomatisasi teknologi di setiap stasiun juga akan ditambah.”

Peningkatan pelayanan termasuk dengan bertambahnya jumlah unit kereta itu sendiri serta jumlah perjalanannya. Saat ini, Makmur mengatakan, sudah ada 600 unit kereta dari jumlah 386 unit tiga tahun lalu. “Tahun ini kami juga akan membeli sebanyak 90 unit kereta dari Jepang.”

Kereta api anjlok karena ada rel kereta yang gompal
Petugas melakukan evakuasi KRL Commuter Line yang anjlok di stasiun Cilebut, Bogor, Jabar, Kamis (4/10). Evakuasi Commuter Line yang diperkirakan selama delapan jam tersebut menyebabkan perjalanan kereta api dari Bogor menuju Jakarta dan sebaliknya terganggu. (ANTARA/Jafkhairi)
Ada kira-kira lima menit kami terkurung di dalam. Sampai ada yang inisiatif untuk memecahkan kaca jendela tapi tak lama setelah itu baru terbuka pintunya
Bogor (ANTARA News) - Humas PT KAI Daerah Operasi I Jabodetabek Mateta Rijalulhaq mengatakan, kereta anjlok di Stasiun Cilebut diduga disebabkan oleh adanya rel kereta yang "gompal".

"Diduga ada rel kereta yang 'gompal' jadi ketika kereta akan berhenti menyebabkan anjlok keluar dari rel," katanya saat ditemui di lokasi kejadian, Kamis.

Mateta menjelaskan, rel "gompal" maksudnya adalah rel yang terluka atau rel lepas di antara persambungan rel yang tidak terlalu besar seukuran 20cm sehingga sangat mempengaruhi kondisi kereta.

Menurut Mateta, perawatan rel rutin dilakukan setiap saat. Terjadinya rel "gompal" bukan karena kurang perawatan.

"Ini bukan kereta yang pertama berangkat. Kalau perawatan kurang otomatis yang terkena kereta awal. Tapi ini kereta perjalanan jam 06.07 WIB. Karena perjalanan kereta-kereta sebelumnya juga mempengaruhi," katanya.

Mateta mengatakan, pihaknya secara internal akan melakukan penyelidikan terkait anjloknya kereta nomor 435 tujuan Jakarta tersebut. Anjloknya kereta terjadi sekitar pukul 06.15 WIB. Kereta tersebut adalah commuter line nomor 435 yang berangkat dari Bogor menuju Jakarta.

Saat hendak berhenti di stasiun Cilebut, kereta mengalami gangguan dan tiba-tiba anjlok dan keluar dari rel lalu menabrak peron tengah. Kereta ketiga dari rangkaian tersebut melintang di antara rel Jakarta dan Bogor sehingga perjalanan kereta terganggu.

Menurut Galang (35) salah satu penumpang, kejadian tersebut sempat membuat panik penumpang yang ada di dalam kereta.

"Dari awal berangkat kira-kira sudah dekat Cilebut, jalannya sudah tidak enak. Kereta goyang-goyang. Lalu tiba-tiba bergetar dan dengan suara dentuman keras," katanya.

Galang mengatakan, saat kereta menabrak peron, getarannya terasa ke seluruh kereta. Saat itu kereta penuh penumpang yang hendak berangkat kerja.

Sesaat setelah kereta anjlok dan menabrak peron tengah, kepanikan penumpang semakin menjadi saat pintu kereta tidak terbuka.

"Ada kira-kira lima menit kami terkurung di dalam. Sampai ada yang inisiatif untuk memecahkan kaca jendela tapi tak lama setelah itu baru terbuka pintunya. Semua penumpang berhamburan keluar kereta," katanya.

Hingga berita ini diturunkan proses evakuasi rangkaian kereta masih terus dilakukan. Pertugas teknis dari PT KAI telah melakukan evakuasi dengan mengangkat rangkaian kereta menggunakan hidrolik.

Rel kereta api longsor akibat penyempitan sungai kalibaru
Jakarta - Jalur kereta api Jakarta-Bogor di Cilebut longsor pada Rabu (21/11) lalu. Menurut Direktur Keselamatan Ditjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan, Hermanto, penyebab longsor jalur kereta penghubung Jakarta- Bogor tersebut karena penyempitan sungai.

"Longsor dikarenakan penyempitan sungai Kalibaru akibat adanya pemukiman di bantaran kali. Sehingga pas kejadian hujan besar membuat air meluap ditambah saluran irigasi sudah dangkal dan banyak sampah," kata Hermanto dalam konprensi pers di ruang rapat Gedung Karya Kementerian Perhubungan, Jalan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Kamis (29/11/2012).

Selain penyebab, Hermanto juga menjelaskan faktor-faktor apa saja yang jadi penghambat di saat perbaikan rel. Salah satunya tingginya curah hujan di daerah tersebut dan minimnya akses untuk mobil-mobil besar pengangkut bahan-bahan material yang dibutuhkan di daerah itu.

"Dan masih dibutuhkan penelitian struktur tanah lebih lanjut untuk menentukan bidang longsor apakah kuat untuk dilalui," ujar Hermanto.

Hermanto juga menambahkan saat ini di lokasi jalur rel kereta yang longsor sedang dilakukan penimbunan. Dan nantinya jika sudah selesai, Dirjen Kereta Api akan menguji dulu apakah jalur sudah layak untuk dilewati.

"Namun kita membutuhkan waktu 10 hari dimulai dari hari ini. Jadi diperkirakan 10 Desember 2012 akan selesai dan untuk jalur hilir diberi perkuatan dengan menggunakan sheet pile hingga kedalaman bidang longsor agar jalur tersebut kuat untuk dilalui," imbuhnya.

Polri Tunggu Hasil Pemeriksaan KY Soal Hakim Agung Yamani
Polri menyatakan pihaknya masih menunggu hasil pemeriksaan internal Mahkamah Agung terkait dugaan pemalsuan vonis terhadap gembong narkotika Hillary K Chimize.
"Sangat penting untuk mendapatkan info awal yang kemudian penyidik akan mempelajarinya, info awal itu adalah sebagai bukti permulaan yang cukup," kata Karopenmas Polri, Brigjen Pol Boy Rafli Amar, di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jakarta, Selasa (29/11/2012).
Info awal yang dimaksud itu adalah laporan dari hasil pemeriksaan Komisi Yudisial (KY) terkait adanya dugaan manipulasi putusan Peninjauan Kembali (PK) terhadap gembong narkotika Hilary dari hukuman mati menjadi 15 tahun penjara, dan belakangan putusan tersebut dikorting lebih rendah menjadi 12 tahun penjara.
"Info awal bisa dari KY, karena kan saat ini masih ada pemeriksaan etik. Bilamana dalam pemeriksaan itu ada unsur pidana itulah yang diharapkan di sharing ke kita," papar Boy.
Mengenai adanya surat yang dilayangkan kepada Bareskrim Polri dari KY, Boy menyatakan pihaknya masih mempelajari isi dari surat tersebut.
"Setelah nanti dipelajari akan dilakukan analisa fakta untuk proses penyelidikan selanjutnya, akan sangat penting penyidik untuk pelajari konten yang ada dalam surat itu," jelas Boy.

Daftar pustaka